Di sana saya belajar
banyak hal. Mencari informasi dari televisi dan internet. Di sanalah
saya mengetahui Global Warming (pada waktu itu di Indonesia
belum terdengar gaungnya), mengetahui tentang penyakit AIDS dan
macam-macam topik lainnya. Setelah kembali ke Indonesia, saya menonton
televisi. Saya baru menyadari, sangat sedikit tayangan yang menampilkan
berita dunia. Semua penuh dengan berita dalam negeri. Mulai dari politik
sampai infotainment. Tayangan film pun hampir semuanya produk lokal.
Sinetron, talk show, musik, liputan-liputan mayoritas terjadi
dan diproduksi di dalam negeri.
Suatu hari saya chatting
dengan teman saya dari Vietnam, layaknya teman lama kami mengobrol
mengenai banyak hal. Ketika dia mengajak berbicara tentang berita
terkini dunia, saya tidak bisa banyak bicara. Padahal waktu itu topiknya
tidak telalu jauh melenceng, yakni tentang pemilihan perdana menteri
Australia yang baru. Saya segera mencari-cari berita itu di internet,
supaya bisa sedikit menanggapi obrolannya.
Pikiran saya langsung
melayang ke generasi muda negeri ini. Bagaimana mereka mendapatkan
berita-berita yang terjadi di dunia ini? TV Kabel? Tidak semua rumah
dapat berlangganan TV Kabel. Internet? Tidak semua orang dapat menikmati
internet dengan mudah. Saya contohnya, kalau mau menikmati internet di
rumah, harus memikirkan biaya lumayan besar yang dikeluarkan tiap bulan.
Untungnya di kantor saya tersedia wireless network sehingga
saya bisa mengakses internet pada jam kantor. Bagaimana dengan warnet?
Tidak semua orang dapat merasa nyaman berlama-lama di warnet. Selain
karena faktor kenyamanan, biaya, juga soal waktu. Bagaimana dengan
anak-anak sekolah? Akankah mereka ke warnet untuk mencari berita?
Mungkin ya, tapi sangat sedikit jumlahnya. Sebagian mereka hanya pasrah
menerima berita dari televisi di rumah. Itupun tidak banyak. Karena
waktu-waktu penayangan berita semakin sedikit saja. Coba saja lihat
tayangan televisi pada saat prime time. Hampir semua
menayangkan sinetron kejar tayang. Kalau keadaan terus seperti ini,
bagaimana kita dapat bersaing dengan orang luar? Jangankan bersaing,
mengobrol saja juga tidak berani.
Selain berita, film
dan musik luar negeri juga menghilang dari stasiun televisi kita. Betapa
inginnya saya menyaksikan film-film luar yang nuansanya berbeda dengan
film dalam negeri. Saya juga ingin sekali mendengar pemain-pemain film
itu berbicara dengan bahasa aslinya. Dengan menonton film seperti itu
juga dapat melatih pendengaran kita akan suatu bahasa, bahasa Inggris
atau Mandarin misalnya. Ada satu atau dua stasiun televisi yang
terkadang menayangkan film luar negeri namun sayang sekali, film-film
itu semua sudah dialih-bahasakan.
Kecewa. Itulah yang
saya rasakan dengan perkembangan televisi Indonesia sekarang ini.
Televisi sebagai sarana yang paling efektif dalam menyampaikan informasi
pada masyarakat seharusnya juga bisa menjadi sarana pendidikan.
Menghasilkan generasi muda yang berpikiran luas tidak hanya bergantung
dari lembaga pendidikan formal maupun informal. Televisi juga dapat
memberi masukan sedikit demi sedikit (yang akan menjadi besar nantinya)
dalam perkembangan pemikiran generasi muda. Tayangkanlah juga
berita-berita dunia sehingga mata masyarakat dapat lebih terbuka, tidak
picik. Mengenai film, bukannya tidak cinta produksi dalam negeri, tapi
alangkah baiknya kita juga membuka diri dengan menayangkan film-film
atau tayangan musik dari luar negeri. Padahal dengan menayangkan
produk-produk luar dapat membuat para produsen film dan musik dapat
membandingkan selera publik dan menjadi terpacu untuk lebih baik lagi.
Di atas langit masih ada langit. Jangan beranggapan semua yang kita
hasilkan adalah yang terbaik. Ingat, tidak semua tayangan luar negeri
buruk bagi perkembangan generasi muda. Menghalangi informasi bagi mereka
justru lebih buruk.



0 komentar:
Posting Komentar